TRIP SUMUT – Berangkat dari gagasan bahwa setiap perempuan berhak untuk terus belajar, berkembang, dan memiliki kesempatan untuk berkarya, Lavia Faraji, yang dikenal sebagai Bu Aji, mengembangkan Rumah Lambo sebagai ruang pemberdayaan perempuan melalui pendidikan, pelatihan keterampilan, dukungan sosial, dan pengembangan usaha mikro.
Di tengah perubahan sosial dan ekonomi yang terus berkembang, pemberdayaan perempuan menjadi salah satu aspek penting dalam membangun masyarakat yang lebih inklusif. Perempuan tidak hanya memiliki peran dalam keluarga, tetapi juga mempunyai potensi untuk berkontribusi dalam pendidikan, kegiatan sosial, dunia usaha, dan kehidupan bermasyarakat.
Namun, kesempatan untuk mengembangkan potensi tersebut tidak selalu tersedia secara merata.
Sebagian perempuan menghadapi keterbatasan akses terhadap pelatihan. Sebagian lainnya belum menemukan lingkungan yang mendukung untuk belajar kembali setelah menikah atau memiliki anak. Ada pula ibu rumah tangga yang ingin mencoba usaha kecil, tetapi belum mengetahui keterampilan apa yang perlu dipelajari atau bagaimana memulainya.
Berangkat dari pemikiran tersebut, Lavia Faraji mengembangkan gagasan Rumah Lambo, sebuah inisiatif yang diarahkan untuk menghadirkan ruang belajar dan bertumbuh bagi perempuan.
Melalui Rumah Lambo, Lavia ingin mendorong perempuan agar tidak berhenti mengembangkan kemampuan hanya karena perubahan peran, kondisi keluarga, usia, ataupun pengalaman hidup yang pernah mereka lalui.
Baginya, setiap perempuan tetap memiliki kesempatan untuk belajar, menemukan potensi diri, dan mencoba membangun masa depan yang lebih baik.
Lavia Faraji dan Gagasan di Balik Rumah Lambo

Lavia Faraji dikenal di media sosial melalui persona Bu Aji, dengan gaya komunikasi yang lugas, santai, dan dekat dengan persoalan kehidupan sehari-hari.
Selain mengembangkan konten digital dan gagasan e-book tentang pengembangan diri, Lavia juga memiliki ketertarikan terhadap kegiatan sosial, pendidikan, dan anak-anak. Ketertarikan tersebut menjadi bagian dari arah pemikiran yang ingin ia kembangkan melalui Rumah Lambo.
Bagi Lavia, pemberdayaan perempuan tidak cukup hanya dilakukan melalui pesan motivasi. Perempuan juga membutuhkan kesempatan nyata untuk mempelajari keterampilan, membangun relasi yang positif, serta mencoba menerapkan pengetahuan yang mereka peroleh dalam kehidupan sehari-hari.
Seseorang mungkin merasa lebih percaya diri setelah mendapatkan dukungan emosional. Namun, kesempatan belajar dapat membantunya menemukan kemampuan baru. Pelatihan keterampilan juga dapat membuka jalan bagi seseorang untuk mencoba menghasilkan produk, mengenal pasar, atau merintis usaha dalam skala kecil.
Karena itu, Rumah Lambo diarahkan untuk menghubungkan beberapa aspek sekaligus: pengembangan diri, pendidikan, keterampilan praktis, interaksi sosial, dan pemberdayaan ekonomi.
Inisiatif ini membawa pesan bahwa perempuan tidak harus memilih antara menjalankan peran dalam keluarga dan mengembangkan potensi pribadi. Keduanya dapat berjalan berdampingan sesuai kebutuhan, kemampuan, dan kondisi masing-masing.
Pendidikan sebagai Langkah Awal untuk Membuka Peluang
Salah satu gagasan utama yang ingin dikembangkan melalui Rumah Lambo adalah pentingnya akses terhadap pembelajaran.
Pendidikan tidak selalu harus dimulai dari ruang kelas formal atau program dengan biaya besar. Dalam kehidupan sehari-hari, proses belajar dapat dimulai melalui pelatihan sederhana, kegiatan kelompok, pendampingan, dan kesempatan mencoba hal baru.
Salah satu program yang ingin dikembangkan Rumah Lambo adalah pembelajaran bahasa Inggris dan bahasa asing lainnya.
Kemampuan berbahasa dapat membantu seseorang memperluas wawasan, meningkatkan kepercayaan diri, serta membuka kesempatan untuk berkomunikasi dengan lingkungan yang lebih luas. Bagi perempuan yang tertarik pada pekerjaan, pendidikan lanjutan, kegiatan sosial, atau usaha kecil, keterampilan bahasa juga dapat menjadi bekal yang berguna.
Pembelajaran tersebut dapat diarahkan agar terasa dekat dengan kebutuhan sehari-hari. Peserta, misalnya, dapat berlatih memperkenalkan diri, melakukan percakapan sederhana, memahami kosakata yang sering digunakan, atau belajar berkomunikasi ketika berinteraksi dengan orang baru.
Pendekatan praktis seperti ini diharapkan dapat membuat proses belajar terasa lebih mudah diikuti, termasuk oleh perempuan yang sudah lama tidak mengikuti kegiatan pendidikan formal.
Rumah Lambo ingin membawa semangat bahwa belajar bukan hanya milik mereka yang masih bersekolah. Ibu rumah tangga, perempuan dewasa, dan siapa pun yang ingin meningkatkan kemampuan tetap memiliki ruang untuk memulai.
Pelatihan Keterampilan: Dari Menjahit hingga Produk Kreatif Kekinian
Selain pendidikan bahasa, Rumah Lambo mengembangkan gagasan pemberdayaan melalui keterampilan praktis yang berpotensi diterapkan menjadi kegiatan produktif.
Beberapa jenis keterampilan yang menjadi bagian dari kegiatan dan rencana pengembangannya meliputi menjahit, merajut, serta membuat produk kreatif seperti squishy dan slime.
Menjahit dan merajut merupakan keterampilan yang dapat digunakan untuk menghasilkan berbagai produk, mulai dari aksesori, barang kebutuhan sehari-hari, hingga kerajinan yang memiliki nilai jual.
Sementara itu, squishy dan slime dapat menjadi contoh produk kreatif yang menarik untuk dikembangkan melalui pendekatan kewirausahaan sederhana, terutama dengan memperhatikan keamanan bahan, kualitas produk, dan kesesuaian penggunaannya.
Melalui kegiatan seperti ini, peserta tidak hanya diajak mengenal proses pembuatan produk, tetapi juga berkesempatan mempelajari tahapan yang berkaitan dengan kegiatan usaha.
Misalnya, bagaimana memilih bahan, memperkirakan biaya produksi, menjaga kualitas, menentukan harga, menyusun tampilan produk, dan memperkenalkannya kepada calon pembeli.
Keterampilan tersebut penting karena sebuah produk yang menarik belum tentu langsung menjadi usaha yang berkelanjutan. Diperlukan pula pemahaman mengenai kebutuhan konsumen, pengelolaan biaya, pemasaran, serta konsistensi dalam menghasilkan produk.
Rumah Lambo ingin menjadikan keterampilan praktis sebagai salah satu pintu masuk untuk mengenalkan perempuan pada proses berkarya dan kewirausahaan.
Bukan dengan menjanjikan bahwa setiap peserta akan langsung memperoleh penghasilan, melainkan dengan membuka kesempatan untuk belajar, mencoba, dan mengevaluasi potensi usaha secara bertahap.
Dari Pelatihan Menuju UMKM Skala Kecil
Salah satu arah pengembangan Rumah Lambo adalah mendorong hasil pelatihan agar memiliki peluang untuk dipasarkan.
Saat ini, produk yang dikembangkan dalam lingkup kegiatan tersebut masih berada pada skala kecil, dengan pemasaran yang dilakukan melalui kegiatan Car Free Day atau CFD.
Kegiatan ini menjadi salah satu contoh bagaimana produk kreatif dapat diperkenalkan secara langsung kepada masyarakat. Peserta atau pengelola dapat memperoleh pengalaman mengenai cara menampilkan produk, berinteraksi dengan calon pembeli, menjelaskan keunggulan barang, dan mengamati respons pasar.
Pengalaman tersebut juga dapat menjadi bahan evaluasi untuk menentukan produk mana yang diminati, bagian mana yang perlu diperbaiki, serta bagaimana kegiatan produksi dan pemasaran dapat dikembangkan selanjutnya.
Bagi usaha yang baru tumbuh, proses seperti ini merupakan kesempatan untuk belajar dari praktik nyata.
Rumah Lambo ingin mengembangkan pendekatan pemberdayaan yang tidak berhenti pada pelatihan, tetapi juga memberikan perhatian pada kemungkinan penerapan keterampilan dalam kegiatan ekonomi.
Dalam jangka panjang, arah tersebut dapat mencakup pengenalan dasar-dasar kewirausahaan, pencatatan keuangan sederhana, pengemasan produk, pemasaran digital, dan pengembangan identitas usaha.
Dengan demikian, perempuan yang tertarik membangun usaha memiliki kesempatan untuk mengenal prosesnya secara lebih terstruktur sebelum mengambil keputusan yang lebih besar.
Penting untuk dipahami bahwa perjalanan setiap usaha berbeda. Tidak semua peserta harus menjadi pengusaha, dan tidak semua produk harus langsung menghasilkan keuntungan. Nilai pembelajaran juga terletak pada pengalaman mencoba, meningkatkan keterampilan, dan memahami proses membangun kegiatan produktif.
Mengapa Ibu Rumah Tangga Juga Perlu Mendapatkan Ruang untuk Berkembang?
Dalam kehidupan sehari-hari, ibu rumah tangga sering kali menjalankan banyak tanggung jawab sekaligus. Mereka mengurus kebutuhan keluarga, mendampingi anak, mengelola rumah, dan menghadapi berbagai persoalan yang tidak selalu terlihat oleh orang lain.
Di tengah tanggung jawab tersebut, kesempatan untuk mengembangkan minat atau mempelajari keterampilan baru terkadang menjadi terbatas.
Padahal, menjadi ibu rumah tangga tidak menghapus identitas seseorang sebagai individu yang memiliki potensi, cita-cita, dan keinginan untuk belajar.
Melalui gagasan Rumah Lambo, Lavia Faraji ingin mendorong terciptanya ruang yang memungkinkan perempuan menjalani proses pengembangan diri tanpa harus merasa bahwa mereka terlambat memulai.
Perempuan yang belum pernah menjahit dapat belajar dari dasar. Mereka yang ingin meningkatkan kemampuan bahasa dapat berlatih secara bertahap. Mereka yang tertarik pada kerajinan dapat mencoba membuat produk sederhana. Dan mereka yang ingin merintis usaha dapat mulai mengenal prosesnya dari skala kecil.
Tidak semua perempuan memiliki tujuan yang sama. Ada yang ingin menambah keterampilan untuk kebutuhan pribadi, ada yang ingin memperluas pergaulan, dan ada pula yang ingin mencoba membangun sumber penghasilan.
Karena itu, pemberdayaan perlu memberikan ruang bagi perbedaan kebutuhan tersebut.
Rumah Lambo membawa gagasan bahwa perempuan tidak harus memenuhi satu standar keberhasilan tertentu untuk dianggap berkembang. Setiap langkah yang membantu seseorang menjadi lebih terampil, percaya diri, dan memiliki pilihan dapat menjadi bagian dari proses pertumbuhan.
Dukungan Sosial dan Lingkungan yang Mendorong Perempuan Bertumbuh
Pemberdayaan bukan hanya berkaitan dengan kemampuan individu. Lingkungan sosial juga memiliki peran penting dalam membantu seseorang belajar dan mempertahankan semangatnya.
Ketika berada di lingkungan yang mendukung, seseorang memiliki kesempatan untuk bertukar pengalaman, mengajukan pertanyaan, mendapatkan masukan, dan mengenal orang lain yang memiliki minat serupa.
Sebaliknya, keterbatasan dukungan dapat membuat proses belajar terasa lebih sulit, terutama bagi mereka yang baru memulai.
Rumah Lambo ingin mengembangkan ruang kebersamaan yang memungkinkan perempuan bertemu, belajar, dan saling mendukung melalui kegiatan yang positif.
Ruang tersebut dapat menjadi tempat untuk berbagi pengalaman, membangun pertemanan, dan menemukan inspirasi dari perjalanan orang lain.
Namun, dukungan sosial bukan berarti semua anggota harus memiliki pandangan yang sama atau selalu menyetujui satu sama lain. Lingkungan yang sehat justru memberi ruang untuk belajar, menghormati perbedaan, dan membangun komunikasi yang baik.
Bagi Lavia, komunitas yang bermakna tidak hanya diukur dari banyaknya orang yang bergabung, tetapi juga dari kesempatan yang dapat dibuka dan manfaat yang secara nyata dirasakan oleh anggotanya.
Karena itu, pengembangan Rumah Lambo perlu terus diarahkan pada kegiatan yang relevan, inklusif, dan sesuai dengan kebutuhan perempuan yang terlibat di dalamnya.
Pemberdayaan Perempuan dan Perhatian terhadap Pendidikan Anak
Ketertarikan Lavia Faraji pada bidang sosial dan pendidikan juga menjadi bagian dari nilai yang ingin ia bawa dalam perjalanan Rumah Lambo.
Pendidikan memiliki peran penting dalam membentuk kesempatan hidup seseorang, termasuk bagi anak-anak yang sedang berada dalam masa pertumbuhan.
Lingkungan keluarga, kesempatan belajar, dan dukungan dari orang dewasa dapat membantu anak mengembangkan kemampuan serta rasa percaya diri.
Dalam konteks ini, pemberdayaan perempuan dan perhatian terhadap pendidikan anak dapat saling berkaitan. Ketika perempuan memiliki akses terhadap pengetahuan dan keterampilan, mereka juga berkesempatan memperluas wawasan yang dapat diterapkan dalam kehidupan keluarga maupun lingkungan sosial.
Rumah Lambo membawa harapan untuk ikut membangun lingkungan yang menghargai proses belajar sepanjang hayat, baik bagi perempuan dewasa maupun generasi yang lebih muda.
Ke depan, gagasan tersebut dapat dikembangkan melalui kegiatan edukatif dan sosial yang sesuai dengan kapasitas komunitas, kebutuhan masyarakat, serta sumber daya yang tersedia.
Setiap kegiatan perlu dirancang dengan tujuan yang jelas agar manfaatnya dapat dipahami dan dievaluasi, terutama apabila melibatkan anak-anak atau kelompok yang membutuhkan perlindungan khusus.
Rumah Lambo sebagai Mimpi yang Dibangun Secara Bertahap
Bagi Lavia Faraji, Rumah Lambo bukan hanya sebuah nama atau identitas komunitas. Rumah Lambo merupakan gagasan yang ingin ia kembangkan menjadi ruang bagi perempuan untuk belajar, berkarya, dan menemukan kesempatan baru.
Namun, membangun inisiatif pemberdayaan membutuhkan proses. Diperlukan konsistensi kegiatan, pengelolaan yang baik, sumber daya yang memadai, serta evaluasi terhadap kebutuhan peserta dan hasil program.
Karena itu, perkembangan Rumah Lambo perlu dilihat sebagai perjalanan yang bertahap.
Kegiatan pelatihan merupakan salah satu langkah untuk mengenalkan keterampilan. Pemasaran produk melalui CFD menjadi kesempatan untuk mencoba memperkenalkan hasil karya. Sementara itu, pengembangan pembelajaran dan komunitas membuka peluang untuk memperluas kegiatan sesuai kemampuan yang tersedia.
Dalam proses tersebut, dokumentasi kegiatan, pencatatan hasil, dan masukan dari peserta dapat membantu menentukan arah pengembangan berikutnya.
Apabila dijalankan secara konsisten, langkah-langkah sederhana tersebut dapat menjadi dasar untuk membangun program yang lebih terstruktur dan berkelanjutan.
Visi besarnya adalah menghadirkan ruang yang tidak hanya mendorong perempuan merasa lebih percaya diri, tetapi juga membantu mereka menemukan akses terhadap pembelajaran, keterampilan, dan kesempatan untuk berkontribusi.
Visi Lavia Faraji: Perempuan Berhak Terus Bertumbuh
Melalui Rumah Lambo, Lavia Faraji ingin mengembangkan gagasan bahwa setiap perempuan memiliki hak untuk terus belajar dan menemukan potensi dirinya, terlepas dari tahap kehidupan yang sedang dijalani.
Bagi sebagian perempuan, langkah pertama mungkin berupa keberanian untuk kembali belajar. Bagi yang lain, langkah tersebut bisa berupa mencoba keterampilan baru, mengikuti kegiatan sosial, atau mulai memasarkan produk sederhana.
Tidak ada satu jalan yang berlaku untuk semua orang. Yang terpenting adalah tersedianya kesempatan untuk mencoba dan lingkungan yang mendukung proses tersebut.
Rumah Lambo ingin terus mengeksplorasi cara agar pendidikan, keterampilan, pengembangan diri, dan kegiatan ekonomi dapat saling mendukung dalam pemberdayaan perempuan.
Mimpi tersebut tidak harus dimulai dari program besar. Ia dapat tumbuh melalui kegiatan yang konsisten, kemitraan yang tepat, pengelolaan yang bertanggung jawab, dan kemauan untuk belajar dari setiap proses.
Pada akhirnya, keberhasilan sebuah inisiatif pemberdayaan bukan hanya tentang seberapa besar nama yang dibangun, tetapi juga tentang manfaat yang dapat diberikan dan peluang yang berhasil dibuka bagi orang lain.
Rumah Lambo membawa satu pesan sederhana: perempuan tidak harus menunggu hidupnya sempurna untuk mulai bertumbuh. Mereka berhak belajar, berkarya, mengembangkan keterampilan, dan menemukan jalan mereka sendiri menuju masa depan yang lebih baik.
Bagi Lavia Faraji, itulah arah yang ingin terus ia perjuangkan melalui Rumah Lambo—membangun ruang yang memberi perempuan kesempatan untuk berkembang, bukan hanya sebagai bagian dari keluarga, tetapi juga sebagai individu yang memiliki kemampuan, aspirasi, dan potensi untuk berkontribusi kepada masyarakat.