TRIP SUMUT – Tjong A Fie Mansion menjadi salah satu bangunan bersejarah yang menarik perhatian wisatawan di Kota Medan, Sumatera Utara. Rumah yang dahulu dimiliki saudagar kaya Tjong A Fie ini menyimpan kisah perjalanan sejarah, pengaruh budaya, serta kehidupan sosial masyarakat Medan pada masa lampau.
Bangunan tersebut awalnya didirikan sebagai rumah pribadi dan hadiah pernikahan untuk istri ketiga Tjong A Fie, Lim Koei-Yap, yang memiliki darah Melayu-China. Kini, rumah bersejarah itu berfungsi sebagai museum yang memungkinkan pengunjung mengenal lebih dekat sosok Tjong A Fie beserta warisan peninggalannya.
Keunikan Tjong A Fie Mansion tidak hanya terletak pada nilai sejarahnya. Perpaduan arsitektur China, Melayu, dan Eropa menjadikan bangunan ini sebagai salah satu destinasi wisata heritage yang patut dikunjungi ketika berada di Medan.
Sejarah Tjong A Fie Mansion, Warisan Saudagar Berpengaruh di Medan
Tjong A Fie Mansion dibangun pada 1895 dan diselesaikan pada 1900. Rumah tersebut menjadi hadiah pernikahan Tjong A Fie kepada istri ketiganya, Lim Koei-Yap.
Dalam perkembangannya, rumah ini tidak hanya menjadi peninggalan keluarga, tetapi juga bagian dari sejarah pertumbuhan Kota Medan. Tjong A Fie dikenal sebagai tokoh masyarakat Tionghoa yang memiliki pengaruh besar, terutama dalam bidang perkebunan.
Ia juga dikenal dengan sebutan Mayor Tjong A Fie. Selain aktivitasnya di sektor perkebunan, ia tercatat sebagai pemilik Bank Batavia, yang dalam sumber tersebut dikaitkan dengan Bank QNB Indonesia Medan Pemuda.
Peran Tjong A Fie dalam kehidupan masyarakat terlihat dari berbagai kontribusinya terhadap pembangunan kota. Ia turut menyumbangkan empat jam untuk Balai Kota Medan, membangun Kelenteng Kwan Te Kong, Masjid Gang Bengkok, serta Jembatan Kebajikan Medan.
Kedermawanannya juga dikenang melalui bantuan kepada masyarakat kurang mampu dan anak-anak yang kesulitan memperoleh pendidikan. Riwayat tersebut tercatat dalam surat wasiatnya yang dipamerkan di lantai pertama museum.
Dari Rumah Keluarga Menjadi Museum Bersejarah
Keberadaan Tjong A Fie Mansion sebagai museum bermula dari inisiatif cucunya, Fon Prawira. Pada 2009, rumah tersebut dibuka sebagai museum agar peninggalan keluarga tetap terawat dan tidak terbengkalai.
Setahun kemudian, pada 2010, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan meresmikan bangunan itu sebagai cagar budaya.
Sebagian besar bagian rumah masih mempertahankan bentuk aslinya. Sekitar 70-80 persen bangunan disebut masih asli, sementara berbagai koleksi di dalamnya merupakan peninggalan langsung Tjong A Fie beserta keturunan keluarganya.
Kondisi tersebut membuat museum ini memiliki nilai penting bagi pengunjung yang ingin mempelajari sejarah melalui bangunan dan benda peninggalan, bukan sekadar membaca catatan masa lalu.
Perpaduan Arsitektur China, Melayu, dan Eropa
Salah satu daya tarik utama Tjong A Fie Mansion adalah desain bangunannya yang menggabungkan tiga pengaruh budaya berbeda. Perpaduan tersebut terlihat pada sejumlah bagian rumah, mulai dari jendela hingga ruangan di lantai dua.
Arsitektur Melayu dapat dikenali melalui jendela kayu yang didominasi warna hijau. Sementara itu, pengaruh Eropa terlihat pada ruang dansa di lantai dua yang memberikan gambaran mengenai gaya hidup masyarakat kalangan atas pada masa tersebut.
Unsur China menjadi salah satu karakter paling menonjol karena hadir di hampir seluruh bagian bangunan. Kombinasi ketiga gaya tersebut menciptakan tampilan rumah yang berbeda dari bangunan modern pada umumnya.
Bagi penggemar sejarah dan fotografi arsitektur, detail bangunan ini menjadi daya tarik tersendiri. Pengunjung dapat mengamati bagaimana unsur budaya yang berbeda berpadu dalam satu rumah bersejarah.
Ruangan Bersejarah dan Halaman Feng Shui
Pengunjung Tjong A Fie Mansion dapat melihat sejumlah ruangan yang menggambarkan kehidupan keluarga pemiliknya. Beberapa di antaranya adalah ruang bersantai, kamar anak-anak Tjong A Fie, kamar Tjong A Fie dan istrinya, serta ruang galeri.
Salah satu bagian yang menarik adalah halaman terbuka di tengah rumah yang dikenal sebagai halaman Feng Shui. Area ini dipercaya dapat mendatangkan rezeki sekaligus memiliki fungsi praktis sebagai jalur masuk cahaya matahari dan sirkulasi udara.
Keberadaan halaman tersebut memperlihatkan bahwa desain rumah tidak hanya memperhatikan keindahan, tetapi juga kenyamanan dan keyakinan yang berkembang dalam tradisi pemiliknya.
Ruang dansa di lantai dua juga menjadi bagian yang menarik untuk diamati. Ruangan ini menghadirkan gambaran suasana sosial pada masa ketika dansa menjadi salah satu bentuk hiburan kalangan bangsawan dan masyarakat berada.
Meski demikian, pengunjung perlu memperhatikan aturan museum. Sejumlah area, termasuk ruang galeri, tempat sembahyang leluhur dan dewa, serta kamar Tjong A Fie, tidak diperbolehkan untuk difoto.
Kisah Hubungan Tjong A Fie dengan Sultan Deli
Selain meninggalkan warisan berupa bangunan, Tjong A Fie juga dikenal memiliki hubungan dekat dengan Sultan Deli. Kedekatan tersebut bahkan disebut masih terjaga di antara keluarga kedua tokoh hingga sekarang.
Hubungan itu terlihat melalui tradisi saling mengunjungi pada perayaan hari besar. Keluarga Sultan Deli disebut berkunjung ke rumah keluarga Tjong A Fie saat Imlek, sedangkan keluarga Tjong A Fie berkunjung ke Istana Maimun ketika Lebaran.
Tjong A Fie juga memiliki hubungan erat dengan saudara laki-lakinya, Tjong Yong Hian. Salah satu peninggalan yang berkaitan dengan hubungan keduanya adalah taman bunga yang kini dikenal sebagai Tjong Yong Hian Gallery dan menjadi objek wisata.
Kisah-kisah tersebut menambah dimensi sejarah museum karena memperlihatkan hubungan sosial antarkeluarga berpengaruh di Medan pada masa lalu.
Tjong A Fie Meninggal pada 1921
Tjong A Fie meninggal dunia pada 1921 dalam usia 61 tahun. Ia dimakamkan di kawasan Pulo Brayan, Deli Indah, Kota Medan.
Kepergiannya meninggalkan kesan mendalam bagi masyarakat. Ribuan warga pribumi dilaporkan ikut mengantarkan jenazahnya dari rumah hingga ke Lapangan Merdeka.
Besarnya jumlah pelayat tersebut menjadi salah satu gambaran mengenai pengaruh Tjong A Fie di tengah masyarakat. Perannya tidak hanya berkaitan dengan kegiatan usaha, tetapi juga kontribusi sosial dan pembangunan di Kota Medan.
Melalui museum yang kini menyimpan berbagai peninggalannya, kisah kehidupan Tjong A Fie tetap dapat dipelajari oleh generasi berikutnya.
Lokasi Tjong A Fie Mansion Medan
Tjong A Fie Mansion berada di kawasan Kesawan, salah satu kawasan bersejarah di Kota Medan. Lokasinya berada di Jalan Jenderal Ahmad Yani No. 105, Kesawan, Kecamatan Medan Baru, Kota Medan, Sumatera Utara.
Letaknya membuat museum ini dapat menjadi salah satu tujuan wisata sejarah bagi pengunjung yang ingin mengenal warisan budaya dan perkembangan Kota Medan.
Sebelum berkunjung, wisatawan disarankan memastikan kembali informasi operasional museum agar perjalanan lebih terencana.
Harga Tiket Masuk dan Jam Buka Tjong A Fie Mansion
Berdasarkan informasi yang tersedia dalam sumber, museum ini buka setiap hari pukul 09.00-17.00 WIB. Harga tiket masuk yang tercantum adalah Rp35.000 per orang.
Berikut ringkasan informasi kunjungan:
- Nama destinasi: Tjong A Fie Mansion
- Alamat: Jalan Jenderal Ahmad Yani No. 105, Kesawan, Kecamatan Medan Baru, Kota Medan, Sumatera Utara
- Jam operasional: 09.00-17.00 WIB
- Harga tiket masuk: Rp35.000 per orang
Informasi harga dan jam operasional tersebut mengacu pada data dalam sumber artikel dan dapat berubah sewaktu-waktu. Pengunjung sebaiknya memeriksa informasi terbaru sebelum datang.
Tjong A Fie Mansion, Destinasi Wisata untuk Mengenal Sejarah Medan
Tjong A Fie Mansion menawarkan pengalaman wisata yang menggabungkan sejarah tokoh berpengaruh, peninggalan keluarga, dan keunikan arsitektur lintas budaya. Setiap bagian bangunan memberikan gambaran mengenai kehidupan sosial serta perkembangan Kota Medan pada masa lalu.
Keberadaan koleksi asli, halaman Feng Shui, ruang dansa, dan hubungan historis keluarga Tjong A Fie dengan Sultan Deli menjadikan museum ini lebih dari sekadar bangunan tua.
Bagi wisatawan yang tertarik pada sejarah, budaya, dan arsitektur, Tjong A Fie Mansion dapat menjadi pilihan untuk memahami salah satu bagian penting dari perjalanan Kota Medan.